Aku tau dalam hidup ini semua orang pasti
mempunyai masalah tersendiri. Masalah yang dimana membuat kita ingin merasa
lebih kuat. Membuat kita berfikir kritis untuk menyelesaikan masalah itu.
Masalah yang tidak memifirkan waktu ketika datang dan pergi dengan membekaskan
memori tidak enak dalam fikiran kita. Itu terkadang membuat kita lemah.
Tetapi inilah hidup, realita. Kita
harus menghadapi manis pahitnya. Dan masalahku? Ada apa denganku? Aku berusaha
ceria, hidup tanpa beban, acuh tak acuh dengan apa yg sedang kuhadapi. Padahal
dalam fikiran dan hatiku penuh dengan rasa cemas dengan masalah-masalah yang
mengusik kebahagiaanku.
Ingin rasanya aku pergi meninggalkan semua ini.
Lari dari semua beban dan masalah ini. Tetapi ini bukan seperti dongeng, dimana
aku bisa menetukan jalan cerita sesuka hatiku. Ini hidup, ini nyata. Semuanya
sudah diatur oleh yang maha kuasa. Disamping itu juga aku tidak rela
meninggalkan orang yang aku sayang. Bagaimana dengan orang yang sayang
denganku? Apa aku memperdulikannya?
Terkadang aku tolol! Lebih memperdulikan orang
yang aku sayang tanpa memperdulikan orang yang sayang denganku. Sudah banyak sekali
air mata yang aku teteskan untuk orang yang aku sayang, aku meneteskan air mata
itu tanpa memikirkan berapa banyak orang yang yang sayang denganku meneteskan
air matanya untukku. Aku sering berkorban banyak untuk orang yang aku sayang
tanpa memperdulikan pengorbanan orang yang sayang denganku. Aku sampai sakit
memikirkan orang begitu aku sayang tanpa memikirkan seberapa besar perhatian
yang diberikan oleh orang yang begitu sayang denganku.
Terkadang aku berfikir kritis. Disaat aku sakit,
tidak berdaya, susah. Apakah orang yang aku sayang ada disampingku? Tidak! Aku
terlalu bodoh jika mengharapkan orang itu. Apakah orang yang sayang denganku
dan aku acuhkan padaku, mereka mengacuhkan aku juga? Tidak! Tetapi merekalah
yang senantiasa menemaniku.
Bukan soal kekasih adik, kakak, atau gebetan aku
banyak mengalah. Tetapi soal teman yang mungkin bisa dibilang juga teman dekat.
Aku kadang lebih suka menghindarinya jika ia sedang bersenang-senang. Dan aku
sangat ingin menghampirinya lagi saat ia bersedih. Aku juga yang ingin sekali
membangunkannya saat ia terjatuh.
Aku juga sering mengalah dengan adikku. Aku
sering dibilang terlewat sabar menhadapi tingkah laku adikku sendiri. Aku
begitu Karena aku menyayanginya. Jangankan adik kandung, adik yang bukan adik
kandungpun sangat aku sayang, bahkan lebih. Tetapi apakah dia memperdulikan
posisi seorang kakak seperti aku? Kurasa tidak. Dia mungkin berfikir aku
hanyalah seorang kakak bohongan yang tau bahwa aku mempunyai seorang adik
bohongan juga.
Aku tau mengharapkan kasih sayang dari orang
yang kita sayang tetapi orang itu mengacuhkan kita, itu hanya menyisakan sesak.
Tapi apa aku memperdulikannya? Tidak! Aku tidak perduli seberapa sesak yang aku
rasakan. Dalam menyangi orang aku juga tidak memperdulikan apakah orang itu
menyayangiku juga atau tidak. Aku hanya memperdulikan niatku yang senantia
ingin memberinya kasih sayang.
Menyayangi tanpa disayangi kadang membuat kita
merasa perlu ada yang diperjuangkan, berjuangkan untuk etap menjaganya.
Walaupun itu menyakitkan. Tetapi semakin hati disakiti maka semakin kuat juga
untuk tetap mengasihi.
Ketika aku bercermin dan melihat bayanganku,
ingin rasanya aku menggoyah-goyahkan tubuhku sambil berkata “lihatlah orang
yang menyangimu, lihatlah pengorbanan mereka! Mereka kebahagiaanmu. Acuhlkanlah
sesaat orang yang tidak memperdulikanmu. Mereka hanyalah piluhmu. Piluhmu juga
menjadi beban untuk orang yang menyayangimu”. Tetapi kekukuhanku mengalahkan
semua itu. Aku tetap terpacu oleh niatku untuk tetap ingin mengasihi tanpa
dikasihi.
Manusia keras kepala, bodoh,tolol. Adakah
manusia bodoh lain yang melebihi kebodohanku ini? Apakah aku cukup tolol untuk
dikucilkan? Kurasa iya. Tetapi apakah orang yang menyangiku tega melakukan itu?
Tidak!
Kalian! Kenapa kalian begitu memperdulikan aku?
Kalian seharusnya lelah menghadapi aku yang keras kepala dan selalu mengacuhkan
kalian. Mungkin ketika aku mempertanyakan hal ini salah satu dari mereka hanya
tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih
sayang.


0 komentar:
Posting Komentar