Pages

Anda Pembaca Ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 28 April 2013

Manusia Bodoh



 Aku tau dalam hidup ini semua orang pasti mempunyai masalah tersendiri. Masalah yang dimana membuat kita ingin merasa lebih kuat. Membuat kita berfikir kritis untuk menyelesaikan masalah itu. Masalah yang tidak memifirkan waktu ketika datang dan pergi dengan membekaskan memori tidak enak dalam fikiran kita. Itu terkadang membuat kita lemah.
            Tetapi inilah hidup, realita. Kita harus menghadapi manis pahitnya. Dan masalahku? Ada apa denganku? Aku berusaha ceria, hidup tanpa beban, acuh tak acuh dengan apa yg sedang kuhadapi. Padahal dalam fikiran dan hatiku penuh dengan rasa cemas dengan masalah-masalah yang mengusik kebahagiaanku.
Ingin rasanya aku pergi meninggalkan semua ini. Lari dari semua beban dan masalah ini. Tetapi ini bukan seperti dongeng, dimana aku bisa menetukan jalan cerita sesuka hatiku. Ini hidup, ini nyata. Semuanya sudah diatur oleh yang maha kuasa. Disamping itu juga aku tidak rela meninggalkan orang yang aku sayang. Bagaimana dengan orang yang sayang denganku? Apa aku memperdulikannya?
Terkadang aku tolol! Lebih memperdulikan orang yang aku sayang tanpa memperdulikan orang yang sayang denganku. Sudah banyak sekali air mata yang aku teteskan untuk orang yang aku sayang, aku meneteskan air mata itu tanpa memikirkan berapa banyak orang yang yang sayang denganku meneteskan air matanya untukku. Aku sering berkorban banyak untuk orang yang aku sayang tanpa memperdulikan pengorbanan orang yang sayang denganku. Aku sampai sakit memikirkan orang begitu aku sayang tanpa memikirkan seberapa besar perhatian yang diberikan oleh orang yang begitu sayang denganku.
Terkadang aku berfikir kritis. Disaat aku sakit, tidak berdaya, susah. Apakah orang yang aku sayang ada disampingku? Tidak! Aku terlalu bodoh jika mengharapkan orang itu. Apakah orang yang sayang denganku dan aku acuhkan padaku, mereka mengacuhkan aku juga? Tidak! Tetapi merekalah yang senantiasa menemaniku.
Bukan soal kekasih adik, kakak, atau gebetan aku banyak mengalah. Tetapi soal teman yang mungkin bisa dibilang juga teman dekat. Aku kadang lebih suka menghindarinya jika ia sedang bersenang-senang. Dan aku sangat ingin menghampirinya lagi saat ia bersedih. Aku juga yang ingin sekali membangunkannya saat ia terjatuh.
Aku juga sering mengalah dengan adikku. Aku sering dibilang terlewat sabar menhadapi tingkah laku adikku sendiri. Aku begitu Karena aku menyayanginya. Jangankan adik kandung, adik yang bukan adik kandungpun sangat aku sayang, bahkan lebih. Tetapi apakah dia memperdulikan posisi seorang kakak seperti aku? Kurasa tidak. Dia mungkin berfikir aku hanyalah seorang kakak bohongan yang tau bahwa aku mempunyai seorang adik bohongan juga.
Aku tau mengharapkan kasih sayang dari orang yang kita sayang tetapi orang itu mengacuhkan kita, itu hanya menyisakan sesak. Tapi apa aku memperdulikannya? Tidak! Aku tidak perduli seberapa sesak yang aku rasakan. Dalam menyangi orang aku juga tidak memperdulikan apakah orang itu menyayangiku juga atau tidak. Aku hanya memperdulikan niatku yang senantia ingin memberinya kasih sayang.
Menyayangi tanpa disayangi kadang membuat kita merasa perlu ada yang diperjuangkan, berjuangkan untuk etap menjaganya. Walaupun itu menyakitkan. Tetapi semakin hati disakiti maka semakin kuat juga untuk tetap mengasihi.
Ketika aku bercermin dan melihat bayanganku, ingin rasanya aku menggoyah-goyahkan tubuhku sambil berkata “lihatlah orang yang menyangimu, lihatlah pengorbanan mereka! Mereka kebahagiaanmu. Acuhlkanlah sesaat orang yang tidak memperdulikanmu. Mereka hanyalah piluhmu. Piluhmu juga menjadi beban untuk orang yang menyayangimu”. Tetapi kekukuhanku mengalahkan semua itu. Aku tetap terpacu oleh niatku untuk tetap ingin mengasihi tanpa dikasihi.
Manusia keras kepala, bodoh,tolol. Adakah manusia bodoh lain yang melebihi kebodohanku ini? Apakah aku cukup tolol untuk dikucilkan? Kurasa iya. Tetapi apakah orang yang menyangiku tega melakukan itu? Tidak!
Kalian! Kenapa kalian begitu memperdulikan aku? Kalian seharusnya lelah menghadapi aku yang keras kepala dan selalu mengacuhkan kalian. Mungkin ketika aku mempertanyakan hal ini salah satu dari mereka hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang.
separador

0 komentar:

Followers