Hey! Sudah lama aku tak mendengar suaramu, sudah lama juga pesanmu tidak mampir ke inbox handphone-ku. Apakah kau begitu sibuk? Apakah sudah ada seseorang yang lain? Secepat itukah? Ah, maafkan aku, jikalau aku telah meiliki penggantimu juga. Habisan, kau meninggalkanku begitu saja. Tanpa meninggalkan satupun alasan yang jelas. Entahlah yang ada dipikiranku saat ini bahwa kau telah bersamanya yang mungkin tidak lebih baik dariku atau mungkn sebaliknya. Tinggal tugasku kini pergi menjauhimu. Bertindak sepertimu. Meninggalkan semua kengangan dulu.
kini aku merasa aku bukan siapa-siapamu lagi, walaupun tak ada ucapan resmi dari pihak aku dan kamu. Namun kini segala keputusanmu bukan lagi hak aku untuk mengurusi, segala kepentinganmu bukan lagi kepentinganku. Selain jauh, kita juga sudah begitu berbeda dan dunia kita tidak berotasi pada poros yang sama.
Siapa sosok penggantiku saat ini? Betapa beruntungnya dia bisa menjadi milikmu, betapa senangnya dia bisa menjadi penyebab tawamu, dan betapa serunya dia bisa masuk dalam hidupmu. Perlakukanlah dia baik, jangan erlakukan dia seperti aku yang kau diamkan/anggurkan/bahkan mungkin kau buang.
Untukmu, sesorang yang sempat menjadi penambang rindu dihatiku dengan semua kekonyolnmu.
Pernah beberapa kali aku meindkanmu, merapal namamu dalam doa, dan memikirkan kamu saat doa mengalir melalui ucapan dalam bibirku. Masih bolehkah aku melakukan hal-hal yang dulu aku lakukan saat masih bersamamu? Merindukanmu, meyayangimu, memperhatikanmu,dan mendoakanmu. Masih bolehkah aku menghubungimu secara berkala? Masih bolehkah aku memarahimu ketika kautak makan hingga malam menjelang? Masih bolehkah aku membentakmu ketika kau pulang hingga larut malam? Dan masih bolehkah aku merindukanmu meskipun kau kini telah bersama dia?
Rasanya semua kini berbeda. Kepribadianmu yang mengundang rasa simpatik-ku dan rasa cuek-ku yang membuatmu gigih untuk menjadkanku sosok yang kau percaya bisa membuat hidupmu lebih baik.. itulah awal dmana dulu kita bisa saling menyayangi. Tak peduli bagaimana ras sayang itu datang dan tiba-tiba saja mengetuk pintu hatimu dan hatiku. Awal yang sederhana, melalui pesan singkat, berlanjut kesambungan telepon, lalu kita saling bercerita dan berbagi. Betapa indahnya masa lalu, masa dimana masih ada kamu.
Masih ingatkah kamu kamu pada rekaman di handphone-ku atau handphone-mu yang berisi suar kita saat sedng berbicara melalui sambungan telepon? Aku tertawa cekikikan ketika mendengarmu menyanyikan lagu UTUH. Aku iseng menyuruhmu untuk menyanyikan lagu itu berulang-ulang, berkali-kali juga kamu mengulang lagu yang sama bahkan sampai kau kesal kepadaku. Karena ada hal lucu dilagu itu, yap berhubungan dengan masa lalumu. Dan jika aku meledekimu dengan hal itu kamu bisa sampai marah kepadaku. Dan masih banyak lagi kengan-kenangan dulu lainnya.
Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu.aku sangat rindu malam-malam dimana kamu menemaniku begadang. Aku rindu malam-malam dimana aku bisa terus mendengar suaramu yang mengantarku dalam lelap. Yaaa walaupu suaramu tak lembut, bahkan kadang suaramu tiak lebih bagus dari radio rusak. Tapi ya kau tau itu semua ulah sinyal yang mengusik kerinduan kita.
Bisakah kau berhenti menjual bayang-bayang? Aku benci kerika harus terus mengingatmu. Ketika bahkan kutau kau tak mengingatku! Bisakah kau berhenti merasuki malam-malamku? Aku takut ketika harus memikirkanmu. Ketika bahkan kusadar kau tak memikirkanku. Tolonglah... ini permintaan terakhirku. Bisakah kenangan tentangmu berhenti mengganggu hari-hariku? Aku muak dipermainkan kenangan! Aku bosan dipermainkan otakku sendiri! Aku lelah... aku sangat amat lelah.
Sempat terpikir untuk melupakan soskmu, sempat terencana untuk menghapus semua tentangmu, pernah terbesit harap untuk tak lagi merindukanmu, tapi ternyata untuk saat ini aku belum cukup kuat untuk melakukan itu. Aku terlalu lemah... utuk melupakanmu.
Dari wanita yang berjarak 1 tahun denganmu.
Dari wanita yang sempat kau percaya untuk masuk jauh kedalam kehidupanmu.
Dari wanita yang selalu dipermainkan oleh takdir dan kenangan.
Dengan rindu
Nur Hasanah

