Pages

Anda Pembaca Ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 13 September 2013

Lagi-Lagi Ini Tentangmu


Hey! Sudah lama aku tak mendengar suaramu, sudah lama juga pesanmu tidak mampir ke inbox handphone-ku. Apakah kau begitu sibuk? Apakah sudah ada seseorang yang lain? Secepat itukah? Ah, maafkan aku, jikalau aku telah meiliki penggantimu juga. Habisan, kau meninggalkanku begitu saja. Tanpa meninggalkan satupun alasan yang jelas. Entahlah yang ada dipikiranku saat ini bahwa kau telah bersamanya yang mungkin tidak lebih baik dariku atau mungkn sebaliknya. Tinggal tugasku kini pergi menjauhimu. Bertindak sepertimu. Meninggalkan semua kengangan dulu.

kini aku merasa aku bukan siapa-siapamu lagi, walaupun tak ada ucapan resmi dari pihak aku dan kamu. Namun kini segala keputusanmu bukan lagi hak aku untuk mengurusi, segala kepentinganmu bukan lagi kepentinganku. Selain jauh, kita juga sudah begitu berbeda dan dunia kita tidak berotasi pada poros  yang sama.

Siapa sosok penggantiku saat ini? Betapa beruntungnya dia bisa menjadi milikmu, betapa senangnya dia bisa menjadi penyebab tawamu, dan betapa serunya dia bisa masuk dalam hidupmu. Perlakukanlah dia baik, jangan erlakukan dia seperti aku yang kau diamkan/anggurkan/bahkan mungkin kau buang.

Untukmu, sesorang yang sempat menjadi penambang rindu dihatiku dengan semua kekonyolnmu.

Pernah beberapa kali aku meindkanmu, merapal namamu dalam doa, dan memikirkan kamu saat doa mengalir melalui ucapan dalam bibirku. Masih bolehkah aku melakukan hal-hal yang dulu aku lakukan saat masih bersamamu? Merindukanmu, meyayangimu, memperhatikanmu,dan mendoakanmu. Masih bolehkah aku menghubungimu secara berkala? Masih bolehkah aku memarahimu ketika kautak makan hingga malam menjelang? Masih bolehkah aku membentakmu ketika kau pulang hingga larut malam? Dan masih bolehkah aku merindukanmu meskipun kau kini telah bersama dia?

Rasanya semua kini berbeda. Kepribadianmu yang mengundang rasa simpatik-ku dan rasa cuek-ku yang membuatmu gigih untuk menjadkanku sosok yang kau percaya bisa membuat hidupmu lebih baik.. itulah awal dmana dulu kita bisa saling menyayangi. Tak peduli bagaimana ras sayang itu datang dan tiba-tiba saja mengetuk pintu hatimu dan hatiku. Awal yang sederhana, melalui pesan singkat, berlanjut kesambungan telepon, lalu kita saling bercerita dan berbagi. Betapa indahnya masa lalu, masa dimana masih ada kamu.

Masih ingatkah kamu kamu pada rekaman di handphone-ku atau handphone-mu yang berisi suar kita saat sedng berbicara melalui sambungan telepon? Aku tertawa cekikikan ketika mendengarmu menyanyikan lagu UTUH. Aku iseng menyuruhmu untuk menyanyikan lagu itu berulang-ulang, berkali-kali juga kamu mengulang lagu yang sama bahkan sampai kau kesal kepadaku. Karena ada hal lucu dilagu itu, yap berhubungan dengan masa lalumu. Dan jika aku meledekimu dengan hal itu kamu bisa sampai marah kepadaku. Dan masih banyak lagi kengan-kenangan dulu lainnya.

Jujur, aku sangat merindukan masa-masa itu.aku sangat rindu malam-malam dimana kamu menemaniku begadang. Aku rindu malam-malam dimana aku bisa terus mendengar suaramu yang mengantarku dalam lelap. Yaaa walaupu suaramu tak lembut, bahkan kadang suaramu tiak lebih bagus dari radio rusak. Tapi ya kau tau itu semua ulah sinyal yang mengusik kerinduan kita.

Bisakah kau berhenti menjual bayang-bayang? Aku benci kerika harus terus mengingatmu. Ketika bahkan kutau kau tak mengingatku! Bisakah kau berhenti merasuki malam-malamku? Aku takut ketika harus memikirkanmu. Ketika bahkan kusadar kau tak memikirkanku. Tolonglah... ini permintaan terakhirku. Bisakah kenangan tentangmu berhenti mengganggu hari-hariku? Aku muak dipermainkan kenangan! Aku bosan dipermainkan otakku sendiri! Aku lelah... aku sangat amat lelah.

Sempat terpikir untuk melupakan soskmu, sempat terencana untuk menghapus semua tentangmu, pernah terbesit harap untuk tak lagi merindukanmu, tapi ternyata untuk saat ini aku belum cukup kuat untuk melakukan itu. Aku terlalu lemah... utuk melupakanmu.

Dari wanita yang berjarak 1 tahun denganmu.
Dari wanita yang sempat kau percaya untuk masuk jauh kedalam kehidupanmu.
Dari wanita yang selalu dipermainkan oleh takdir dan kenangan.

Dengan rindu

Nur Hasanah
Read more...
separador

Tidak Sekokoh Batu Karang

Aku baru tahu ternyata kaumemiliki kemampuan unik. Kemampuan yang mungkin tidak dimiliki oleh mansi lainnya, membuat mata bengkak karena terlalu lama menangisi sesuatu yang sempat kausebut dengan mudah dan kau lupakan dengan mudah, kasih sayang.

Kedatanganmu begitu sempurna, kaumembawa bekal yang katanya sayang, menghampiriku dengan janji-janji bisu yang terlihat akan kautepati. Lalu, kita mencoba untuk berjalan bersama, "menutup telinga" dari banyak cemooh dan hujatan orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang kita.

Akhir-akhi ini, kamu terlalu sibuk dengan sesuatu yang harus kaukejar dan kauraih. Tanpa memikirkan kesehatanmu. Bahkan kaumelupakan seseorang yang selalu berada di sampingmu. Kaumelupakan seseorang yang beberapa bulan terakhir bersedia menyiapkan telinganya untukmu, hanya untuk mendengar ceritamu. Kaumelupakan seseorang yang menjadi pelampiasan amarahmu, yang kausakiti hatinya saat kaulelah dengan semua rutinitasmu. Kaumelupakan seseorang yang berusaha meluangkan waktunya hanya untuk memastikan bahwa kesehatanmu terjaga dengan baik. Kaumelupakanku yang berusaha bertahan untukmu.

Sebenarnya, aku ini kauanggap apa? Sesekali kaumengemis, sesekali kauberlaku sadis. Seringkali kaubaik, seringkali kaupicik. Bisakah kau berhenti menjadikanku "boneka"? Aku seperti benda mati yang bisa kausakiti sesuka hati. Aku layaknya robot tak berperasaan yang bisa kaubodohi kapanpun kaumau.

Kali ini aku sadar, bahwa usaha "bertahan" yang kulakukan hanya kauanggap sebagai sampah. Usahaku hanya kauanggap sebagai sesuatu yang tak pantas kauhargai. Kauberubah menjadi seseorang yang kutakuti, menjadi manusia lain yang tak pernah kuketahui.

Aku sadar bahwa kaulebih mencintai duniamu daripada aku. Aku sadar bahwa kaulebih memikirkan keegoisanmu daripada kebahagiaanku. Semakin lama aku semakin yakin bahwa aku tak mampu lagi mengimbangimu. Aku tak mampu lagi menjadi sosok tegar yang mengokohkan langkah tegakmu. Bukankah hubungan ini tidaklah sekokoh batu karang?

Aku hanya masa lalu yang mencoba untuk menyadarkanmu, karena mungkin kaulupa bahwa ada seseorang yang membiarkan air matanya terbujur kaku dipipinya, hanya karena dia tidak ingin melihat perubahanmu, hanya karena dia MENYAYANGIMU.


Read more...
separador

Sama Saja Seperti Kisah Sebelum Aku

Kamu datang membawa banyak kenangan, membawa banyak janji lewat bisikan. Kauhangatkan hatiku yang dingin dengan sesuatu yang kausebut kasih sayang. Kaugenggam lembut perasaanku dengan sesuatu yang kausebut kisah nyata. Lalu, sosokmu masuk dalam hidupku; membawa warna berbeda dalam hari-hariku.

Aku sudah bosan dengan mata bengkak karena menangis, sudah bosan melamun karena disakiti, dan sudah bosan merasa lelah karena terlalu sering dibuat kecewa. Kamu kembali bisikan sesuatu lagi di telingaku, "Aku tidak akan berpaling." Kamu selalu mengaku begitu, kamu berjanji tak akan menyakitiku seperti beberapa orang yang lebih dahulu datang ke dalam hidupmu yang hanya kau permainkan.

Sayang, aku begitu memercayaimu. Ketika kaudatang membawa sesuatu yang menarik, mataku terlalu silau untuk mengawasi gerak-gerikmu. Pesonamu terlalu berkilau hingga membuatku buta segala. Hatiku kaukendalikan, perasaanku kaueratkan, dan hatiku kaupermainkan. Pelan-pelan, kamu semakin masuk ke dalam hidupku, kamu juga terlibat dalam nasibku. Kita semakin dekat karena percakapan-percakapan manis di ujung telepon, juga sebab kata-kata manismu dalam setiap obrolan bodoh kita di pesan singkat.

Suaramu mengalir di telingaku setiap malam. Menghujaniku dengan kata sayang, mengangkatku dengan kebahagiaan yang kaujanjikan, dan membawaku terbang ke mimpi-mimpi yang pernah kita rancang dengan begitu teliti dan teratur. Hadirmu membuat aku percaya bahwa kasih sayang tak melulu soal air mata. Membuat aku yakin kalau jarak tak menghalangi apapun. Kuikuti permainanmu, permainan yang tak kuketahui peraturannya. Aku masuk tanpa persiapan, ketika kaubawa aku berlari, berjalan, dan berhenti; aku masih tetap merasa baik-baik saja. Padahal, diam-diam, kausedang merancang sesuatu. Sesuatu yang ujung-ujungnya malah menyakitiku.

Kamu pernah berjanji, suatu hari nanti hanya kamulah yang bertahan untuk bersamaku. Kamu pernah berkata, bahwa sosokku hanya mampu diimbangi oleh sosokmu. Kamu pernah menjanjikan kita yang bahagia, yang nyata, yang tanpa luka. Tapi, nyatanya? Kamu mengikari janji-janji yang sempat membuatku berharap lebih. 


Ternyata aku dimatamu sama saja. Sama seperti yang lainnya, kau jadikan tempat persinggahan, yang ditinggal pergi; saat sedang sayang-sayangnya.
Read more...
separador

Followers